ETIKA PROFESI AKUNTANSI : PELANGGARAN ETIKA PADA PT METRO BATAVIA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Etika memiliki pengaruh yang signifikan terhadap skeptisisme profesional auditor. Etika lebih luas dari prinsip-prinsip moral. Etika tersebut mencakup prinsip perilaku untuk orang-orang profesional yang dirancang baik untuk tujuan praktis maupun tujuan idealstis. Kode etika profesional antara lain dirancang untuk mendorong perilaku ideal, maka kode etik harus realistis dan dapat dilaksanaka. Kode etik ikatan akuntansi Indonesia di Jakarta pada tahun 1998 terdiri dari :

  1. Prinsip Etika
  2. Aturan etika
  3. Interprestasi aturan etika

Prinsip etika memberikan kerangka dasar bagi aturan etika yang mengatur pelaksanaan pemberian jasa profesional bagi anggota. Interprestasi aturan etika merupakan interprestasi yang dikeluarkan sebagai panduan dalam penerapan aturan etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya. Pengembangan kesadaran etis atau moral memainkan peranan kunci dalam semua area profesi akuntan (Louwers, 1997), termasuk dalam melatih sikap skeptisme profesional akuntan. Faktor-faktor situasi berpengaruh secara positif terhadap skeptisme profesional auditor. Faktor situasi seperti situasi audit yang memiliki risiko tinggi (Situasi Irregularities) mempengaruhi auditor untuk meningkatkan sikap skeptisme profesionalismenya.

1.2 RUMUSAN MASALAH

  1. Pelanggaran Etika Profesi Akuntansi  seperti apa yang dilakukan oleh PT. Metro Batavia (Batavia Air) ?
  2. Bagaimanakah solusi yang tepat untuk dapat menangani kasus pelanggaran tersebut

1.3 BATASAN MASALAH

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penulis menyesuaikan topik yang relevan, yaitu membatasi masalah hanya menyangkut pada kasus pelanggaran etika profesi akuntansi pada PT. Metro Batavia Air pada tahun 2012.

1.4 TUJUAN PENULISAN

  1. Untuk mengetahui pelanggaran etika profesi akuntansi yang dilakukan oleh PT. Metro Batavia Air.
  2. Untuk mengetahui solusi yang tepat untuk dapat menangani kasus pelanggaran tersebut.

1.5 METODE PENULISAN

Dalam melakukan penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode kepustakaan

BAB II

PEMBAHASAN

 2.1 SEJARAH PT. METRO BATAVIA ( BATAVIA AIR )

Batavia Air (Nama Resmi: PT. Metro Batavia) adalah sebuah maskapai penerbangan di Indonesia. Batavia Air mulai beroperasi pada tanggal 5 januari 2002, memulai dengan 1 buah pesawat fokker F28 dan dua buah Boeing 2737-200.

Setelah berbagai insiden dan kecelakaan menimpa maskapai-maskapai penerbangan di indonesia, pemerintah Indonesia membuat pemeringkatan atas maskapai-maskapai tersebut. Dari hasil pemeringkatan yang diumumkan pada 22 Maret 2007, Batavia Air berada diperingkat III yang berarti hanya memenuhi syarat minimal keselamatan dan masih ada beberapa persyaratan yang belum dilaksanakan dan berpotensi mengurangi tingkat keselamatan penerbangan. Akibatnya Batavia Air mendapat sanksi administratif yang akan di-review kembali setiap 3 bulan. Bila tidak ada perbaikan kinerja maka izin operasi penerbangan dapat di bekukan sewaktu-waktu.

2.2 KASUS PAILIT PT. METRO BATAVIA ( BATAVIA AIR )

Humas Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Bagus Irawan, menyatakan berdasarkan putusan Nomor 77 mengenai pailit,  PT Metro Batavia (Batavia Air) dinyatakan pailit. “Yang menarik dari persidangan ini, Batavia mengaku tidak bisa membayar utang,” ujarnya, seusai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, 30 Januari 2013.

Ia menjelaskan, Batavia Air mengatakan tidak bisa membayar utang karena “force majeur”. Batavia Air menyewa pesawat Airbus dari International Lease Finance Corporation (ILFC) untuk angkutan haji. Namun, Batavia Air kemudian tidak memenuhi persyaratan untuk mengikuti tender yang dilakukan pemerintah.

Gugatan yang diajukan ILFC bernilai US$ 4,68juta, yang jatuh tempo pada 13 Desember 2012. Karena Batavia Air tidak melakukan pembayaran, maka ILFC mengajukan somasi atau peringatan. Namun karena maskapai itu tetap tidak bisa membayar utangnya, maka ILFC mengajukan gugatan pailit kepada Batavia Air di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pesawat yang sudah disewa pun menganggur dan tidak dapat dioperasikan untuk menutup utang.

Dari bukti-bukti yang diajukan ILFC sebagai pemohon, ditemukan bukti dan utang oleh  Batavia Air. Sehingga sesuai aturan normatif, pengadilan menjatuhkan putusan pailit. Ada beberapa pertimbangan pengadilan. Pertimbangan-pertimbangan itu adalah adanya bukti utang, tidak adanya pembayaran utang, serta adanya kreditur lain. Dari semua unsure tersebut, maka ketentuan pada pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Kepailitan terpenuhi.

Jika menggunakan dalil “force majeur” untuk tidak membayar utang, Batavia Air harus bisa menyebutkan adanya syarat-syarat kondisi itu dalam perjanjian. Namun Batavia Air tidak dapat membuktikannya. Batavia Air pun diberi kesempatan untuk kasasi selama 8 hari. “Kalau tidakmengajukan, maka pailit tetap,”

Batavia Air pasrah dengan kondisi ini. Artinya, kata dia, Batavia Air sudah menghitung secarafinansial jumlah modal dan utang yang dimiliki. Ia pun menuturkan, dengan dipailitkan, maka direksi Batavia Air tidak bisa berkecimpung lagi di dunia penerbangan.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti meminta pada Batavia Air untuk memberikan informasi pada seluruh calon penumpang yang sudah  membeli tiket. Agar informasi ini menyebar secara menyeluruh, Batavia Air diharus siaga di bandara seluruh Indonesia, Kamis (31/1).

“Kepada Batavia Air kami minta besok mereka untuk standby di lapangan Bandara di seluruh Indonesia? Untuk member penjelasan dan menangani penumpang-penumpang itu. Jadi kami minta mereka untuk stay di sana,” ujar Herry saat mengelar jumpa pers di kantornya, Jakarta, Rabu malam (30/1).

Herry mengatakan pemberitahuan ini sudah disampaikan kepada Batavia Air. “Kami sudah kirim informasi ini kebandara-bandara yang ada untuk melakukan antisipasi besok di bandara (31/1),” imbuh Herry.

Menurut Herry, meskipun pangsa pasar Batavia Air tidak banyak tapi menurut siaga di bandara itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi kebingungan pelanggan serta meminimalisir tudingan-tudingan bahwa pihak Batavia tidak bertanggungjawab.

 2.3 ANALISIS

Siapa yang melakukan:

Pihak PT METRO BATAVIA (Batavia Air)

Jenis Pelanggaran :

Batavia Air memiliki tagihan sebesar USD 440rb ditahun pertama, USD 470rb di tahun kedua, USD 550rb ditahun ketiga dan ke empat, dan USD 520rb ditahun kelima dan keenam. Keseluruhan hutang dari IFLC sebesar USD 4,68 juta ini jatuh tempo pada 13 Desember 2012. Karena Batavia Air tidak melakukan  pembayaran, maka ILFC mengajukan somasi atau peringatan. Namun karena maskapai itu tetap tidak bisa membayar utangnya, maka ILFC mengajukan gugatan pailit kepada Batavia Air di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pesawat yang sudah disewa pun menganggur dan tidak dapat dioperasikan untuk menutup utang.

Bagaimana :

Batavia Air mengatakan tidak bisa membayar utang karena “force majeur”, yaitu kalah tender pelayananan transportasi ibadah Haji dan Umroh. Hal ini menjadi penyebab tersendatnya pembayaran. Karena pesawat yang disewa tersebut diperuntukan melayani penumpang yang hendak melakukan ibadah haji ke Mekkah dan Madinah. Sehingga, sumber pembayaran pesawat berasal dari pelayanan penumpang ibadah haji dan umroh.

Dampak/ Akibat :

Batavia Air sudah menghitung secara financial jumlah modal dan utang yang dimiliki. Ia pun menuturkan, dengan dipailitkan, maka direksi Batavia Air tidak bisa berkecimpung lagi di dunia penerbangan, dan calonpenumpang (Pembeli tiket) Batavia Air menjadi terlantar padahari hari berikutnya.

Tindakan Pemerintah :

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti meminta pada Batavia Air untuk memberikan informasi pada seluruh calon penumpang yang sudah membeli tiket. Agar informasi ini menyebar secara menyeluruh, Batavia Air diharus siaga di bandara seluruh Indonesia.

Faktor Affecting Public :

Pada sisi Faktor Physical juga apakah Qualitas atau mutu Batavia Air sudah termasuk dalam standar maskapai penerbangan Haji.

Sedangkan dalam faktor  Competition banyak terdapat pesaing pesaing lain atau maskapai lain yang lebih tinggi menawarkan tender, sehingga Batavia mengalami kalah tender,

Dalam faktor Financial, dan Ekonomic juga permasalahan tersebut saya piker pihak manajemen Batavia terlalu terburu buru  dalam menentukan sewa pesawat kepada (ILFC).

Lalu yang paling terpenting adalah Faktor Moral, dari sisi konsumen atau penumpang yang sudah memesan Tiket pesawat juga terlantar begitu saat hari berikutnya saat Batavia air di umumkan Pailit hal ini sangat merugikan calon penumpang, dan Batavia Air harus mempertanggungjawab atas keterlantaran penumpang tersebut.

Undang undang yang dilanggar :

Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Kepailitan

  1. Pasal 4, hakkonsumenadalah :
  • Ayat1 : “hakataskenyamanan, keamanan, dankeselamatandalammengkonsumsibarangdan/ataujasa”
  • Ayat3 : “hakatasinformasi yang benar, jelas, danjujurmengenaikondisidanjaminanbarangdan/ataujasa”
  1. Pasal 7, kewajibanpelakuusahaadalah :
  • Ayat2 : “memberikaninformasi yang benar, jelasdanjujurmengenaikondisidanjaminanbarangdan/ataujasasertamemberpenjelasanpenggunaan, perbaikandanpemeliharaan”
  1. Pasal 8
  • Ayat1 : “Pelakuusahadilarangmemproduksidan/ataumemperdagangkanbarangdan/ataujasa yang tidakmemenuhiatautidaksesuaidenganstandar yang dipersyaratkandanketentuanperaturanperundang-undangan”
  • Ayat4 : “Pelakuusaha yang melakukanpelanggaranpadaayat (1) danayat (2) dilarangmemperdagangkanbarangdan/ataujasatersebutsertawajibmenariknyadariperedaran”
  1. Pasal 19
  • Ayat1 : “Pelakuusahabertanggungjawabmemberikangantirugiataskerusakan, pencemaran, dan/ataukerugiankonsumenakibatmengkonsumsibarangdan/ataujasa yang dihasilkanataudiperdagangkan”
  • Ayat2 : “Gantirugisebagaimanadimaksudpadaayat (1) dapatberupapengembalianuangataupenggantianbarangdan/ataujasa yang sejenisatausetaranilainya, atauperawatankesehatandan/ataupemberiansantunan yang sesuaidenganketentuanperaturanperundang-undangan yang berlaku”
  • Ayat3 : “Pemberiangantirugidilaksanakandalamtenggangwaktu 7 (tujuh) harisetelahtanggal   transaksi”

BAB III

PENUTUP

 

3.1 KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan diatas maka hasil yang dapat kami  simpulkan adalah Kurangnya pertimbangan dari pihak manajemen Batavia Air untuk mengambil suatu keputusan, apakah yang di sebutkan sebagai pengambilan keputusan sebagai strategi pemenang tender dalam proyek Haji tersebut sudah Pihak  Batavia Air sudah mampu bersaing dengan Perusahaan perusahaan Penerbangan lain yang ikut persaing Tender Pemerintah. Jika Tidak mampu menangani proyek pemerintah tersebut tentunya akan menjadi Bomerang bagi pihak manajemen yang sudah mengorbankan asetnya dan terikat janji untuk memenangkan Tender tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Link Referensi :http://news.loveindonesia.com/en/news/detail/150322/pailit-batavia-air-diminta-siaga-di-seluruh-bandara

http://www.tempo.co/read/news/2013/01/30/090458040/p-Ini-Penyebab-Batavia-Air-Dinyatakan-Pailit

Hasnan Mahardika              23211266

Nurlinda Maya P                  25211360

Rizky Kurnia Putri               26211384

Widiawati                             27211383

Wiris Eria R                          28211069

 

4 EB 23

 

Contoh kasus Pelanggaran Etika

Metro Batavia (Batavia Air)

Humas Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Bagus Irawan, menyatakan berdasarkan putusan Nomor 77 mengenai pailit,  PT Metro Batavia (Batavia Air) dinyatakan pailit. “Yang menarik dari persidangan ini, Batavia mengaku tidak bisa membayar utang,” ujarnya, seusai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, 30 Januari 2013.

Ia menjelaskan, Batavia Air mengatakan tidak bisa membayar utang karena “force majeur”. Batavia Air menyewa pesawat Airbus dari International Lease Finance Corporation (ILFC) untuk angkutan haji. Namun, Batavia Air kemudian tidak memenuhi persyaratan untuk mengikuti tender yang dilakukan pemerintah.

Gugatan yang diajukan ILFC bernilai US$ 4,68juta, yang jatuh tempo pada 13 Desember 2012. Karena Batavia Air tidak melakukan pembayaran, maka ILFC mengajukan somasi atau peringatan. Namun karena maskapai itu tetap tidak bisa membayar utangnya, maka ILFC mengajukan gugatan pailit kepada Batavia Air di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pesawat yang sudah disewa pun menganggur dan tidak dapat dioperasikan untuk menutup utang.

Dari bukti-bukti yang diajukan ILFC sebagai pemohon, ditemukan bukti dan yautang oleh  Batavia Air. Sehingga sesuai aturan normatif, pengadilan menjatuhkan putusan pailit. Ada beberapa pertimbangan pengadilan. Pertimbangan-pertimbangan itu adalah adanya bukti utang, tidak adanya pembayaran utang, serta adanya kreditur lain. Dari semua unsure tersebut, maka ketentuan pada pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Kepailitan terpenuhi.

Jika menggunakan dalil “force majeur” untuk tidak membayar utang, Batavia Air harus bisa menyebutkan adanya syarat-syarat kondisi itu dalam perjanjian. Namun Batavia Air tidak dapat membuktikannya. Batavia Air pun diberi kesempatan untuk kasasi selama 8 hari. “Kalau tidakmengajukan, maka pailit tetap,”

Batavia Air pasrah dengan kondisi ini. Artinya, kata dia, Batavia Air sudah menghitung secarafinansial jumlah modal dan utang yang dimiliki. Ia pun menuturkan, dengan dipailitkan, maka direksi Batavia Air tidak bisa berkecimpung lagi di dunia penerbangan.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti meminta pada Batavia Air untuk memberikan informasi pada seluruh calon penumpang yang sudah  membeli tiket. Agar informasi ini menyebar secara menyeluruh, Batavia Air diharus siaga di bandara seluruh Indonesia, Kamis (31/1).

“Kepada Batavia Air kami minta besok mereka untuk standby di lapangan Bandara di seluruh Indonesia? Untuk member penjelasan dan menangani penumpang-penumpang itu. Jadi kami minta mereka untuk stay di sana,” ujar Herry saat mengelar jumpa pers di kantornya, Jakarta, Rabu malam (30/1).

Herry mengatakan pemberitahuan ini sudah disampaikan kepada Batavia Air. “Kami sudah kirim informasi ini kebandara-bandara yang ada untuk melakukan antisipasi besok di bandara (31/1),” imbuh Herry.

Menurut Herry, meskipun pangsa pasar Batavia Air tidak banyak tapi menurut siaga di bandara itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi kebingungan pelanggan serta meminimalisir tudingan-tudingan bahwa pihak Batavia tidak bertanggungjawab.

Analisis :

Siapa yang melakukan:

Pihak PT METRO BATAVIA (Batavia Air)

JenisPelanggaran :

Gugatan yang  diajukan  ILFC bernilai US$ 4,68 juta, yang jatuh tempo pada 13 Desember 2012. Karena Batavia Air tidak melakukan  pembayaran, maka ILFC mengajukan somasi atau peringatan. Namun karena maskapai itu tetap tidak bisa membayar utangnya, maka ILFC mengajukan gugatan pailit kepada Batavia Air di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pesawat yang sudah disewa pun menganggur dan tidak dapat dioperasikan untuk menutup utang.

Bagaimana :

Batavia Air mengatakan tidak bisa membayar utang karena “force majeur”. Batavia Air menyewa pesawat Airbus dari International Lease Finance Corporation (ILFC) untuk angkutan haji. Namun, Batavia Air kemudian tidak memenuhi persyaratan untuk mengikuti tender yang dilakukan pemerintah.

Dampak/ Akibat :

Batavia Air sudah menghitung secara financial jumlah modal dan utang yang dimiliki. Ia pun menuturkan, dengan dipailitkan, maka direksi Batavia Air tidak bisa berkecimpung lagi di dunia penerbangan, dan calonpenumpang (Pembeli tiket) Batavia Air menjadi terlantar padahari hari berikutnya.

Tindakan Pemerintah :

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti meminta pada Batavia Air untuk memberikan informasi pada seluruh calon penumpang yang sudah membeli tiket. Agar informasi ini menyebar secara menyeluruh, Batavia Air diharus siaga di bandara seluruh Indonesia.

Kesimpulan :

Pendapat saya pribadi ketika melihat pelanggaran berikut ini adalah Kurangnya pertimbangan dari pihak manajemen Batavia Air untuk mengambil suatu keputusan, apakah yang di sebutkan sebagai pengambilan keputusan sebagai strategi pemenang tender dalam proyek Haji tersebut sudah Pihak  Batavia Air sudah mampu bersaing dengan Perusahaan perusahaan Penerbangan lain yang ikut persaing Tender Pemerintah. Jika Tidak mampu menangani proyek pemerintah tersebut tentunya akan menjadi Bomerang bagi pihak manajemen yang sudah mengorbankan asetnya dan terikat janji untuk memenangkan Tender tersebut.

Faktor Affecting Public :

Pada sisi Faktor Physical juga apakah Qualitas atau mutu Batavia Air sudah termasuk dalam standar maskapai penerbangan Haji.

Sedangkan dalam faktor Competition banyak terdapat pesaing pesaing lain atau maskapai lain yang lebih tinggi menawarkan tender, sehingga Batavia mengalami kalah tender,

Dalam faktor Financial, dan Ekonomic juga permasalahan tersebut saya piker pihak manajemen Batavia terlalu terburu buru  dalam menentukan sewa pesawat kepada (ILFC).

Lalu yang paling terpenting adalah Faktor Moral, dari sisi konsumen atau penumpang yang sudah memesan Tiket pesawat juga terlantar begitu saat hari berikutnya saat Batavia air di umumkan Pailit hal ini sangat merugikan calon penumpang, dan Batavia Air harus mempertanggungjawab atas keterlantaran penumpang tersebut.

Undang undang yang dilanggar :

Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Kepailitan

  1. Pasal 4, hak konsumenadalah :

Ayat 1 : “hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa”

Ayat 3 : “hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa”

  1. Pasal 7, kewajiban pelaku usaha adalah :

Ayat 2 : “memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/ atau jasa serta member penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan”

  1. Pasal 8

Ayat 1 : “Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/ataujasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan”

Ayat 4 : “Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajibmenariknya dari peredaran”

  1. Pasal 19

Ayat 1 : “Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/ atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/ atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan”

Ayat 2 : “Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan/ atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/ atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”

Ayat 3 : “Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal   transaksi”

Link Referensi :http://news.loveindonesia.com/en/news/detail/150322/pailit-batavia-air-diminta-siaga-di-seluruh-bandara

http://www.tempo.co/read/news/2013/01/30/090458040/p-Ini-Penyebab-Batavia-Air-Dinyatakan-Pailit

Nama Kelompok:

1. Hasnan Mahardika

2. NurLinda Maya P

3. Rizki Kurnia Putri

4. Widiawati

5. Wiris Eria

Pelanggaran Etika Di Sekitar

Berikut ini adalah pelanggaran etika yang terjadi di lingkungan Sekitar saya, yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 2014 hingga 5 Oktober 2014, yaitu:

  1. Pada tanggal 01 Oktober 2014, telah terjadi pelanggaran etika ketika saya sedang menunggu  angkutan umum,  dua orang supir angkutan umum berbicara dengan kalimat kalimat yang tidak sopan & kasar.  Jelas saja ini termasuk pelanggaran etika, karena kedua supir ini berbicara di depan umum dengan kata-kata yang tak layak didengar.
  2. Pada tanggal 02 Oktober 2014, telah terjadi pelanggaran etika ketika saya mengantarkan teman saya kerumah Neneknya, di perjalanan ada seorang anak SMP yang mengendarai motor secara ugal-ugalan. Disamping itu ia tidak mengenakan helm serta tidak mempedulikan lampu lalu lintas. Jelas ini termasuk pelanggaran Etika, karena ia dapat membahayakan dirinya dan orang lain serta ia tidak tertib lalu lintas.
  3. Pada tanggal 03 Oktober 2014, telah terjadi pelanggaran etika di lingkungan Kampus yaitu ketika saya sedang menunggu bimbingan perbaikan revisi,  seorang mahasiswa membuang plastik permen secara sembarangan. Kemudian pada hari yang sama, saya melihat seseorang membuang tissu yang habis dipakai diselipkan di ranting pohon. Kedua hal tersebut sangat tidak baik dan termasuk pelanggaran etika, karena di dekat mereka sudah disediakan tong sampah tetapi mereka tetap tidak peduli.
  4. Pada tanggal 04 Oktober 2014, telah terjadi pelanggaran etika di lingkungan rumah saya yaitu ketika seorang pengendara motor melewati gang rumah saya dengan dengan kecepatan tinggi dan suara knalpotnya membuat bising, padahal disana sedang ada para ibu yang sedang memberi makan anak-anaknya.  Ini termasuk pelanggaran etika, karena pengendara melaju kencang membuat para ibu & anak anak kaget, serta ia tidak meminta maaf akibat suara knalpotnya yang membuat bising.
  5. Pada tanggal 05 Oktober 2014, telah terjadi pelanggaran etika di depan Masjid  yang dilakukan oleh seorang ibu yang tidak mau mengantri untuk mengambil antrian daging kurban, padahal ibu tersebut baru datang dan langsung saja menerobos antrian.  Jelas ini melanggar etika, ibu tersebut tidak mau mengantri padahal semua orang yang mendapat kupon rela mengantri.

Wiris Eria R

28211069

4EB23

Talking about Myself

Hi, Thank you for the time allow me here to introduce myself. My complete name is Wiris Eria Rahmawati, but you can call me Wiris. I was born in Bekasi, 13th January 1993. It means that I’m 21 years old right now. I will tell you a little bit about my educational background, In 2005 I completed my elementary school in Elementary School Jaka Setia 6 Of Bekasi, then in 2008 I finished my junior high school in Junior High School 7 of Bekasi. In 2011, I passed my senior high School in Kapin Senior high school of Jakarta and I was admitted to University of Gunadarma, Faculty of Economic. In 2015 I graduated from University of Gunadarma.

My hobby is listening music. In my spare time, I spend to learn two languages, they are Korean and Japanese, because I have a dream to continue my study in korea or japan. I learn English too, well I think english is very necessary. It’s not only an international language but also a language of science and technology.

I’m looking for a job, and I know this job vacancy from the advertisement in internet.  So, I would like to work in an environment which is continuously evolving, where I can learn more in order to improve my technical skills. Therefore, I feel this company is more suitable for me to apply my skills towards reaching the companies goal & also to improve my economic status too.

I have good attitude, kind, communicative, tolerant, discipline, honest, and be responsible. And I believe that with my positive attitude I can give a full commitment to my job. That’s all about me and I would say thank to your attention, nice to see you

 

 

CURRICULUM VITAE

Personal information

 

Name                          : Wiris Eria Rahmawati

Gender                       : Female

Place, Date of Birth    : Bekasi, 13th January 1993

Marital Status             : Single

Nationality                  : Indonesian

Religion                      : Moslem

Address                      : Betet Street D11 , South Bekasi

Phone                         : 081301090393

Email                          : Ewiris@ymail.com

 

Educational Background

 

1998 – 1999                : Wira Bhakti Pre Elementary School, Bekasi

1999 – 2005                : Elementary School Jaka Setia 6 of Bekasi

2005 – 2008                : Junior High School 7 of Bekasi

2008 – 2011                : Kapin Senior High School of Jakarta

2011 – 2015                : University of Gunadarma, Faculty of Economic: Accounting, Bekasi

 

Courses and Training

 

2007 – 2008                : Nurul Fikri, Bekasi

 

Qualifications

Accounting & Administration Skills (Journal Printing & Calculation, Ledger, Petty Cash Payroll & Calculation, Inventory Controls, Project Data Updating, Teller, Salary Calculation).

Computer Skills (MS Word, MS Excel, MS Power Point, MS Access, MS Outlook, Web Design, Programming, Internet Marketing, Corel Draw, Adobe Photoshop )

 

Personality

I have good attitude, kind, communicative, tolerant, discipline, honest, and be responsible. And I believe that with my positive attitude I can give a full commitment to my job.

 

 

INQUIRY LETTER AND REPLY OF INQUIRY LETTER

INQUIRY LETTER

SHANAARO OKASHO

23 – 25 Sisho Street

Konohagakure, Japan 2723

Ref      : UK / HS /  1C

23rd  March, 2013

 

Mr. Uchiha Sasuke

General Manager

Kirin Nagashi

7 – 9 Hebi Street

Otogakure, Japan  2327

 

 

Dear Mr. Sasuke,

Our company is a company that specializes in selling various kitchen set, we also accept orders for various types of kitchen set from our customer. Our efforts established  since 13th January 2012, This kitchen Set companies we named  “Shanaaro Okasho” located in Konohagakure, Japan.  

For our efforts to be known development consumers , we ask you to introduce our business to consumers . As for the things we want to ask the following :

1 . Promotion what is in accordance with our product ?

2 . When is the appropriate time ?

3 . Whatever media that allows for the sale?

4 . Equipment needed for promotion ?

5 . Total cost spent for the promotion ?

 

We hope to receive your reply soon  and answer any question about our product and company profile. Thank you

 

 

Yours Sincerely,

 

 

Haruno Sakura

Manager Marketing

 

 

 

REPLY OF INQUIRY LETTER

KIRIN NAGASHI

7 – 9 Hebi Street

Otogakure, Japan 2327

 

Mrs. Haruno Sakura

Manager Marketing

Shanaaro Okasho

23 – 25 Sisho Street

Konohagakure, Japan 2723

 

 

Dear Mrs. Sakura,

We thank you for your inquiry letter of 23rd March,  2013. As requested we will answer the questions you ask.

  1. Promotion is right for the product you make is to create ads on social media ,  on advertising in television and in magazines, distributing brochures to some strategic places such as offices and  housing .
  2. Appropriate time for promotion is every day more especially if in televisis more appropriate in a holiday promotion .
  3. Appropriate media to promote your product is to use social media and  in magazines.
  4. Brochures to be distributed in an office or housing.
  5. Total cost spent for the promotion :
  • The cost of printing brochures for                                          : $  100
  • The cost of advertising on social media ( toll fee ) to            : $    20
  • Wages ( divider brochure )                                                    : $    30

              The total cost of the promotion                                          : $  150

 

After reading your letter and  look information about your product, we are very interested  to cooperate with your company.  Thank You

 

 

Yours Sincerely,

 

 

 

Uchiha Sasuke

General Manager

ANALYSIS TENSES ( PART II )

Hong Kong’s Soaring Bank Exposure to China Sparks Credit Concerns

HONG KONG — In just a few years, Hong Kong banks have ramped up lending to China from near zero to $430 billion, fueling concerns about their credit exposure to the mainland at a time when sliding economic growth and defaults are making investors nervous.
      
Even a modest increase in non-performing loans would have a significant impact on Hong Kong bank profits, suggesting the sector will be a sensitive indicator of China’s debt markets in the year ahead.
         
A landmark domestic bond default earlier this month and headlines of bankruptcies – highlighted last week by Zhejiang Xingrun Real Estate Co – have underscored concerns that an unprecedented surge in company debt in China is now showing signs of unraveling.
      
“The quality of these loans extended by Hong Kong banks to Chinese companies has not been tested,” said Mirza Baig, head of foreign exchange and interest rate strategy at BNP Paribas in Singapore. “That is a concern in the backdrop of the rapid rise in exposure.”
      
Foreign bank claims on China hit $1 trillion last year, up from nearly zero 10 years ago, Bank of International Settlements data shows. The biggest portion of that is provided by Hong Kong, according to analyst estimates of the BIS data. The $430 billion in loans outstanding represents 165 percent of Hong Kong’s GDP, figures in Hong Kong Monetary Authority (HKMA) reports show.
          
Data from the HKMA, the city’s de-facto central bank, showed a similar astonishing rise. By the end of 2013, Hong Kong banks’ net claims on China as a percentage of their total loan book was nearing 40 percent, compared with zero in 2010.
          
The rival financial center of Singapore has ramped up its China loans as well, but its exposure is the equivalent of 15 percent of its GDP, figures from its monetary authority show.
          
Local banks in both these centers have taken over lending that foreign banks once dominated, drawn by cheap funding rates following the global financial crisis, a voracious appetite from Chinese borrowers and healthy growth in the world’s second-biggest economy.
          
“Hong Kong banks have pounced on arbitrage opportunities between on-and offshore renminbi funding rates,” said Cathy Holcombe, a strategist at Gavekal Dragonomics in Hong Kong.
          
Currency exposure
          
There is no breakdown of the type of loans behind the $430 billion figure, but Stephen Long, managing director of financial institutions at Moody’s Investor Services, said “a substantial part” is in lower-risk categories such as trade finance. This would include loans to Hong Kong blue-chip companies operating on the mainland or loans supported by guarantees from Chinese banks.
      
However, trade finance may also hide speculative flows that bet on a rise in the yuan – a popular trade encouraged by the currency’s 2.9 percent rise against the dollar last year. In this trade, investors and companies falsify trade receipts to convert foreign currency into yuan and avoid capital controls.
          
This year’s slide in the yuan may also pinch debtors’ ability to service their loans. The yuan has dropped nearly 3 percent, wiping out its 2013 gains, putting it on track for its worst March quarter since 1992.
          
“Most of these loans are not hedged completely on a currency basis even if they are collateralized and the currency volatility means some of these banks may be sitting on large currency losses,” said a trade banker at a large European bank. He declined to be identified because he was not authorized to speak openly to the media.
          
Stock and credit analysts also say a big chunk of the loans has ended up in China’s property and financial sectors, as well as industries with surplus production capacity, such as steel – all areas where regulators are trying to control lending.
          
To be sure, capital buffers at Hong Kong banks are much higher than minimum international standards and the central bank has not shown any alarm about the lending.
          
The HKMA said it has been “closely monitoring” the sector’s credit exposure and it expects banks “to maintain sufficiently robust system of controls to manage the specific risks that they are facing.”
          
Investors are showing more concern though. An index of financial stocks in the main Hong Kong bourse had fallen by more than 13 percent this year through to the end of last week. It perked up on Monday on hopes for government stimulus to support the Chinese economy.
          
Analysts said Bank of East Asia and Bank of China (Hong Kong) have the biggest exposure to China among the lenders based in the territory, at 46 percent and 27 percent of their loan books, respectively. The latter is also the clearing bank for all yuan-related transactions appointed by the China’s central bank. The banks did not return calls seeking comment.
          
Risks
          
Hong Kong’s non-performing loans (NPLs) ratio is currently a record low of 0.5 percent. But if it returned to the long-term average of 3.5 percent, it would cut nearly 20 percent off current expectations for local bank pretax profits for the financial year starting this April, Barclays Capital said.
         
Larger global banks in Hong Kong, such as Standard Chartered Bank and HSBC, are less at risk because of their big balance sheets.
          
Under a scenario where NPLs return to 3.5 percent, Bank of East Asia would take a 10 percent hit to its pretax profit, while Dah Sing Financial Group and Wing Hang Bank could lose nearly a sixth, Barclays says. Dah Sing and Wing Hang did not return calls seeking comment.
          
Sharnie Wong, a banking analyst at Barclays, said the two biggest risks to asset quality of Hong Kong banks are a sharp downturn in China’s economy and a rise in U.S. interest rates. The first factor could reduce the ability of borrowers to service their loans and the second point would raise bank funding costs, squeezing profit margins.
          
Although China’s official NPL ratio is 1.0 percent, bankers estimate the real figure is anywhere between 5 percent and 10 percent.
          
Wong and other analysts argue that interest rates, and with them NPLs, are set to rise as rates globally increase, partly in response to healthier U.S. and European economies.
          
That means Hong Kong banks will have to put more aside to offset debt risks and so readings on their NPLs and provisions against bad debt will provide a window on the state of China’s credit market.

Analysis Tenses

  1. defaults are making investors nervous (Present continous tense) = S + to be + Ving + O
  2. the sector will be a sensitive indicator of China’s debt markets (Future continous tense) = S + will + be + V1 + O
  3. China is now showing signs of unraveling (Present continous tense) = S + to be + Ving + O
  4. Foreign bank claims on China hit $1 trillion (Simple present tense = S + V1 + O
  5. their total loan book was nearing 40 percent (Past Continous tense) = S + was/were + Ving + O
  6. Singapore has ramped up its China loans as well (Present perfect tense) = S + Have/has + V3 + O
  7. Local banks in both these centers have taken over lending (Present perfect tense) = S + Have/has + V3 + O
  8. Hong Kong banks have pounced on arbitrage opportunities (Present perfect tense) = S + Have/has + V3 + O
  9. This would include loans to Hong Kong blue-chip companies operating (Simple past future tense) = S + would + V1
  10. The yuan has dropped nearly 3 percent (Present perfect tense) = S + Have/has + V3 + O
  11. he was not authorized to speak openly to the media. (Simple past tense) = S + was/were + V2 + O
  12. regulators are trying to control lending (Present continous tense) = S + to be + Ving + O
  13. the central bank has not shown any alarm (Present perfect tense) = S + Have/has + V3 + O
  14.  it has been “closely monitoring” the sector’s credit exposure (Present perfect continous tense) = S + Have/has + been + V3 + O
  15. they are facing.(Present continous tense) = S + to be + Ving + O
  16. Investors are showing more concern though (Present contionous tense) = S + to be + Ving + O
  17. An index of financial stocks in the main Hong Kong bourse had fallen by more than 13 percent (Present perfect tense) = S + Have/has + V3 + O
  18.  It would cut nearly 20 percent off current expectations (Simple past future tense) = S + would + V1 + O
  19. Bank of East Asia would take a 10 percent hit to its pretax profit (Simple past future tense)  = S + would + V1 + O
  20. their NPLs and provisions against bad debt will provide a window on the state of China’s credit market.(Simple future tense) = S + Will + V1 + O

 

source: http://www.voanews.com/content/reu-hong-kongs-soaring-bank-exposure-to-china-sparks-credit-concerns/1879381.html

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.